Living Hadis dalam Tradisi Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah Tentang Salaman, Puasa Putih, dan Zikir Masyarakat Banjar di Serdang Berdagai
Sri Ulfa Rahayu, M.TH.; Prof. Dr. Nawir Yuslem, M.A.; dan Dr. Uqbatul Khair Rambe, M.A.
Apa yang terjadi ketika hadis tidak hanya dibaca di dalam kitab, tetapi hidup dalam praktik keseharian sosial-keagamaan pembentuk ikatan komunitas? Di tengah masyarakat Banjar di Serdang Bedagai, Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah memelihara praktik salaman antara murid dan mursyid sebagai ungkapan takzim, puasa putih sebagai latihan pengendalian diri, serta zikir jahr dalam Ratib Samman sebagai pengalaman spiritual kolektif.
Di dalam praktik-praktik tersebut, teks agama, otoritas mursyid, kebudayaan Banjar, dan kehidupan masyarakat perantauan saling bertemu. Namun, bagaimana sebuah tradisi dapat dipahami tanpa tergesa-gesa dibenarkan atau disalahkan? Bagaimana pengalaman spiritual dihormati tanpa mengabaikan pemeriksaan terhadap sumber, bentuk, tujuan, dan batas normatifnya?
Buku akademik ini mempertemukan kajian living hadis, fikih hadis mazhab Syafi‘i, sejarah tarekat, dan pembacaan sosial terhadap masyarakat Banjar. Melalui model teks–praktik–otoritas–komunitas, pembaca diajak menelusuri bagaimana ajaran Nabi diterima, dimaknai, dilembagakan, dan diwariskan, sekaligus mengenali batas antara latihan spiritual, tradisi komunitas, dan klaim ketentuan agama.
Buku ini menjadi rujukan yang wajib dimiliki oleh mahasiswa, dosen, peneliti, juga akademisi yang menekuni studi hadis, tasawuf Nusantara, antropologi agama, serta kajian Islam kontemporer, sekaligus bagi pembaca umum yang ingin memahami Islam sebagai pengalaman yang dijalani, diperdebatkan, dan dimaknai—secara empatik, kritis, dan bertanggung jawab.